Senin, 12 April 2010

text TEXT SIZE :
Share

BANGKA BELITUNG – Polda Bangka Belitung berhasil menangkap dan menggagalkan usaha sebuah kapal nelayan asing Vietnam yang hendak mencuri ikan dan biota laut lainnya di perairan Bangka Belitung.

Dari penangkapan ini 12 ABK dari kapal asing asal Vietnam ini diseret dan diamankan di Mako Ditpolair Polda Bangka Belitung untuk proses pemeriksaan.

Penangkapan sebuah kapal asing asal Vietnam yang hendak beroperasi di wilayah perairan Bangka Belitung ini bermula dari banyaknya laporan para nelayan Bangka Belitung yang resah dengan maraknya aktivitas kapal nelayan asing di perairan Belitung Bangka Belitung.

Petugas Dit Polair Polda Bangka Belitung yang menerima laporan tersebut kemudian bergerak dan menemukan sebuah kapal yang hendak beroperasi melakukan aktivitasnya untuk mencuri ikan dan kekayaan laut indonesia di wilayah perairan Karang Jabar Belitung Bangka Belitung.

Petugas juga memeriksa kelengkapan dokumen kapal asing asal Vietnam itu dan didapati bahwa kapal asing ini tidak memiliki dokumen yang sah untuk memasuki perairan Indonesia.

Karena tidak memiliki izin memasuki wilayah perairan Indonesia tepatnya di perairan belitung ke 12 nahkoda kapal asal Vietnam ini digiring ke markas Dit Polair Polda Bangka Belitung untuk diperiksa lebih lanjut.

Sedangkan barang bukti kapal dan alat untuk menangkap ikan juga alat navigasi para nelayan asing ini juga diamankan dengan penjagaan petugas dit polair polda babel di pelabuhan Pangkalbalam Pangkalpinang Bangka Belitung.


TANGERANG - Ratusan nelayan di Tanjung Pasir, Kecamatan Teluk Naga, Kabupaten Tangerang terpaksa tidak melaut menyusul adanya badai dan gelombang pasang. Akibatnya, kebutuhan hidup para nelayan terancam tidak bisa terpenuhi.

Oting, salah satu nelayan yang tinggal di Kampung RT 04/02, Tanjung Pasir menuturkan, gelombang pasang sempat merendam rumahnya yang terletak di bibir pantai kemarin. Namun gelombang tidak menghancurkan rumah seperti beberapa waktu lalu.

"Kapal nelayan dan rumah untung tidak ada yang rusak," katanya saat dikonfirmasi, Minggu (17/1/2010).

Kondisi ini, lanjutnya, akibat badai angin barat yang kemungkinan menyebabkan gelombang tinggi. Dan akibat cuaca yang buruk, para nelayan di wilayahnya terpaksa tidak melaut. Dan untuk memenuhi kebutuhan hidupnya, para nelayan harus menghemat serta mencukupi kebutuhan hidupnya secara seadanya.

"Makan seadanya saja, karena kami tidak tahu kondisi cuaca seperti ini akan terjadi sampai kapan," lirihnya.


TEGAL – Ratusan nelayan yang tergabung dalam Paguyuban Nelayan Kota Tegal (PNKT) memblokade jalan pantura tepatnya di Jalan Raya Gajahmada Kota Tegal, Senin (12/4) sekira pukul 11.45 kemarin.

Aksi blokade jalan transnasional ini dilakukan lantaran nelayan kecewa karena aksi demonstrasi yang mereka lakukan di depan Gedung DPRD setempat tidak digubris oleh anggota Dewan. Bahkan, gedung wakil rakyat tersebut sepi karena seluruh anggota legislator memilih menghindari aksi nelayan dengan dalih mengikuti upacara Hari Jadi Kota Tegal.

Mereka mendesak agar DPRD mau memperjuangkan dengan merevisi UU Nomor 45 Tahun 2009 tentang perikanan karena dinilai merugikan nelayan. Aksi blokade jalan transnasional ini berlangsung selama 15 menit.

Massa memblokade jalan dengan membuat barisan di sepanjang jalan. Mereka juga duduk-duduk di tengah jalan sambil meneriakkan yel-yel mengecam sikap anggota Dewan yang tidak mendengarkan aspirasi mereka.

Akibat aksi ini, arus lalu lintas di jalan pantura macet total. Sejumlah kendaraan dari arah Jakarta maupun Semarang yang melintasi jalan itu terpaksa memutar arah mencari jalan alternatif.

Sejumlah petugas kemudian berusaha mendorong nelayan keluar dari badan jalan untuk memberikan ruang bagi pengguna jalan. Namun, upaya ini ditentang hingga terjadi aksi saling dorong antara petugas dan nelayan.

“Kami tutup jalan pantura karena kecewa dengan sikap DPRD. Kami datang ke sini (DPRD) dengan maksud baik, tapi mereka tidak ada yang mau menemui kami. Ini sama saja dengan pelecehan,” kata seorang nelayan, Toni (35).

Hingga siang ini, ratusan nelayan masih berkumpul di depan Kantor DPRD yang berlokasi di Jalan Proklamasi. Sementara, puluhan aparat Polresta Tegal masih berjaga-jaga di lokasi guna mencegah terulangnya aksi

Rabu, 07 April 2010



JAKARTA - Penundaan kunjungan Presiden Amerika Serikat Barack Obama ke Indonesia, menunjukkan bahwa Indonesia bukanlah hal penting bagi Presiden ke-44 AS itu.

“Andaikan benar-benar Obama tidak jadi datang ke Indonesia, ini menunjukkan bahwa sebenarnya Indonesia tidak penting-penting banget,” ujar juru bicara Hizbut Tahir Indonesie (HTI) Ismail Yusanto saat dihubungi okezone, di Jakarta, Jumat (19/3/2010).

Menurutnya, penundaan kunjungan sebenarnya substansi gagasannya bukan persoalan datang atau tidaknya Obama, melainkan kebijakan Obama dalam dunia Islam.

“Maka itu dijadikan Islam dalam bentuk penolakan karena Obama dinyatakan tidak mampu dalam menyelsaikan persoalan di Irak dan Agfanistan, tetapi malah menambah pasukan hingga detik ini,” tandasnya.

Selain itu, Ismail juga menyoroti mengenai pemberitahuan penundaan kunjungan Obama.

“Persoalannya adalah penyampaian penundaan kedatangannya pun pertama kali bukan kepada pemerintah Indonesia, melainkan kepada wartawan di Amerika. Ini menujukan bahwa Indonesia tidak terlalu penting di mata Amerika,” papar dia.

Lebih lanjut Ismail menuturkan, sebenarnya dia melihat ada dua hal yang harusnya diperhatikan oleh Obama. Yaitu, pertama sesungguhnya ada masalah dalam negeri, yaitu soal RUU Kesehatan itu.

“Sudah di dalam negerinya banyak masalah kok malahan mau datang ke Indonesia. Ini merupakan tindakan orang yang tidak tahu diri,” ucapnya.

Kedua, lanjutnya, Indonesia dipermainkan oleh Obama. “Tentu saya pikir begitu,” pungkasnya.


ACEH - Gempa yang mengguncang tanah Nangroe Aceh Darussalam (NAD) pagi tadi ternyata menyebabkan adanya kenaikan gelombang laut di Samudera Hindia tersebut.

Berdasarkan peneliti dari Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Gery menyatakan sempat terjadi tsunami kecil di sepanjang pesisir barat Pulau Sumatera.

"Tepatnya mulai dari Meulaboh sampai Sibolga (Sumatera Utara)," kata Gery saat dikonfirmasi okezone, Rabu (7/4/2010).

Gery menjelaskan ketinggian air yang sempat naik akibat gempa itu mencapai 42 centimeter. Tapi, setelah dua jam gempa terjadi, air tidak naik lebih tinggi lagi.

"Jadi peringatan tsunami kecil itu juga sudah dicabut," papar Gery.

Berdasarkan informasi dari Badan Meteorologi, Klimatologi, Geofisika, gempa yang terjadi sekira pukul 05.15 WIB tersebut berpotensi menimbulkan gelombang tsunami.

Pusat gempa dengan kedalaman 34 kilometer ini berada di 75 kilometer Tenggara Sinabang atau 85 kilometer Barat Laut Singkilbaru.

Senin, 15 Februari 2010

10. Seven Mile Bridge

Seven Mile Bridge

The Seven Mile Bridge, in the Florida Keys, runs over a channel between the Gulf of Mexico and the Florida Strait, connecting Key Vaca (the location of the city of Marathon, Florida) in the Middle Keys to Little Duck Key in the Lower Keys. Among the longest bridges in existence when it was built, it is one of the many bridges on US 1 in the Keys, where the road is called the Overseas Highway.

9. San Mateo-Hayward Bridge

San Mateo Hayward Bridge

The San Mateo-Hayward Bridge (commonly called San Mateo Bridge) is a bridge crossing California’s San Francisco Bay in the United States, linking the San Francisco Peninsula with the East Bay. More specifically, the bridge’s western end is in Foster City, the most recent urban addition to the eastern edge of San Mateo. The eastern end of the bridge is in Hayward. The bridge is owned by the state of California, and is maintained by Caltrans, the state highway agency.

8. Confederation Bridge

confederation bridge

The Confederation Bridge (French: Pont de la Confédération) is a bridge spanning the Abegweit Passage of Northumberland Strait, linking Prince Edward Island with mainland New Brunswick, Canada. It was commonly referred to as the “Fixed Link” by residents of Prince Edward Island prior to its official naming. Construction took place from the fall of 1993 to the spring of 1997, costing $1.3 billion. The 12.9-kilometre (8 mi) long bridge opened on 31 May 1997.

7. Rio-Niteroi Bridge

Rio Niteroi Bridge

The Rio-Niteroi Bridge is a reinforced concrete structure that connects the cities of Rio de Janeiro and Niteroi in Brazil.
Construction began symbolically on August 23, 1968, in the presence of Queen Elizabeth II of the United Kingdom and Prince Philip, Duke of Edinburgh, in their first and thus far only visit to Brazil. Actual work begun in January, 1969, and it opened on March 4, 1974.
Its official name is “President Costa e Silva Bridge”, in honor of the Brazilian president who ordered its construction. “Rio-Niteroi” started as a descriptive nickname that soon became better known than the official name. Today, hardly anyone refers to it by its official name.

6. Penang Bridge

Penang Bridge

The Penang Bridge (Jambatan Pulau Pinang in Malay) E 36 is a dual-carriageway toll bridge that connects Gelugor on the island of Penang and Seberang Prai on the mainland of Malaysia on the Malay Peninsula. The bridge is also linked to the North-South Expressway in Prai and Jelutong Expressway in Penang. It was officially opened to traffic on September 14, 1985. The total length of the bridge is 13.5 km (8.4 miles), making it among the longest bridges in the world, the longest bridge in the country as well as a national landmark. PLUS Expressway Berhad is the concession holder which manages it.

5. Vasco da Gama Bridge

Vasco da Gama Bridge

The Vasco da Gama Bridge (Portuguese: Ponte Vasco da Gama, pron. IPA: ['põt(?) 'va?ku d? 'g?m?]) is a cable-stayed bridge flanked by viaducts and roads that spans the Tagus River near Lisbon, capital of Portugal. It is the longest bridge in Europe (including viaducts), with a total length of 17.2 km (10.7 mi), including 0.829 km (0.5 mi) for the main bridge, 11.5 km (7.1 mi) in viaducts, and 4.8 km (3.0 mi) in dedicated access roads. Its purpose is to alleviate the congestion on Lisbon’s other bridge (25 de Abril Bridge), and to join previously unconnected motorways radiating from Lisbon.

4. Chesapeake Bay Bridge

Chesapeake Bay Bridge

The Chesapeake Bay Bridge (commonly known as the Bay Bridge) is a major dual-span bridge in the U.S. state of Maryland; spanning the Chesapeake Bay, it connects the state’s Eastern and Western Shore regions. At 4.3 miles (7 km) in length, the original span was the world’s longest continuous over-water steel structure when it opened in 1952. The bridge is officially named the William Preston Lane, Jr. Memorial Bridge after William Preston Lane, Jr. who, as governor of Maryland, implemented its construction.

3. King Fahd Causeway

The King Fahd Causeway is multiple dike – bridge combination connecting Khobar, Saudi Arabia, and the island nation of Bahrain.

King Fahd Causeway Bridge

A construction agreement signed on July 8, 1981 led to construction beginning the next year. The cornerstone was laid on November 11, 1982 by King Fahd of Saudi Arabia and Sheikh Isa bin Salman al-Khalifa of Bahrain; construction continued until 1986, when the combination of several bridges and dams were completed. The causeway officially opened for use on November 25, 1986.

2. Donghai Bridge

Donghai Bridge

Donghai Bridge (simplified Chinese: ????; traditional Chinese: ????; pinyin: D?ngh?i Dàqiáo; literally “East Sea Grand Bridge”) is the longest cross-sea bridge in the world and the longest bridge in Asia. It was completed on December 10, 2005. It has a total length of 32.5 kilometres (20.2 miles) and connects Shanghai and the offshore Yangshan deep-water port in China. Most of the bridge is a low-level viaduct. There are also cable-stayed sections to allow for the passage of large ships, largest with span of 420 m.

1. Lake Pontchartrain Causeway

Lake Pontchartrain Causeway Bridge

The Lake Pontchartrain Causeway, or the Causeway, consists of two parallel bridges that are the longest bridges in the world by total length.[2] These parallel bridges cross Lake Pontchartrain in southern Louisiana. The longer of the two bridges is 23.87 miles (38.42 km) long. The bridges are supported by over 9,000 concrete pilings. The two bridges feature bascule spans over the navigation channel 8 miles (13 km) south of the north shore. The southern terminus of the Causeway is in Metairie, Louisiana, a suburb of New Orleans. The northern terminus is at Mandeville, Louisiana.

Pengantar

Batik adalah suatu hasil karya yang tidak asing lagi bagi masyarakat Indonesia. Di berbagai wilayah Indonesia banyak ditemui daerah-daerah perajin batik. Setiap daerah pembatikan mempunyai keunikan dan kekhasan tersendiri, baik dalam ragam hias maupun tata warnanya. Dan, salah satu daerah itu adalah Kabupaten Pekalongan. Batik di Pekalongan dapat dikategorikan sebagai batik pesisir yang mempunyai ciri khas pada motif kain hiasnya yang bersifat naturalis dan kaya warna. Ciri khas inilah yang memberikan identitas tersendiri bagi batik-tulis Pekalongan yang berbeda dengan batik lainnya, seperti batik-tulis Yogya atau Solo.

Asal Usul

Konon, asal usul batik Pekalongan sudah ada sejak sekitar tahun 1800-an. Hal ini diperkuat oleh data yang tercatat di Deperindag yang menyatakan bahwa pada tahun 1802 telah ada batik Pekalongan untuk bahan baju yang bermotif pohon kecil.

Namun perkembangan yang signifikan diperkirakan baru terjadi pada tahun 1925-1839 setelah adanya perang besar di Kerajaan Mataram yang sering disebut dengan perang Diponegoro atau perang Jawa. Dalam perang tersebut banyak dari para bangsawan keraton pergi meninggalkan kerajaan. Mereka menyebar ke daerah-daerah lain di timur Pulau Jawa seperti Mojokerto, Tulungagung, Gresik, Surabaya dan Madura. Dan, ada pula yang menyebar ke arah barat dari Kerajaan Mataram seperti Banyumas, Kebumen, Tegal, Cirebon, dan Pekalongan. Di tempat-tempat tersebut mereka tidak hanya menghindar dari serangan Belanda, melainkan juga mengembangkan kesenian yang dahulu hanya ada di lingkungan keraton, yaitu membatik.

Peralatan dan Bahan

Peralatan yang digunakan untuk membuat batik-tulis diantaranya adalah: (1) wajan kecil terbuat dari logam atau tanah liat yang digunakan sebagai tempat untuk memanaskan malam (lilin) supaya cair; (2) anglo, untuk memanaskan malam dengan bara api dari arang; (3) tepas (kipas), untuk memperoleh angin agar bara api tetap menyala; (4) gawangan, untuk menempatkan atau membentangkan mori yang akan dibatik; (5) kowolan atau kuas bambu yang ujungnya diikat dengan kain tebal untuk mengalasi bidang yang luas; (6) taplak, untuk menutup paha pembatik agar tidak terkena tetesan malam pada saat canting ditiup; (5) bandhul, untuk menahan kain agar tidak bergerak-gerak ketika dilukis; (6) uthik, untuk mengais arang; (7) canting[1] dengan berbagai macam ukuran sebagai alat untuk mencurahkan malam cair ke dalam mori yang digambari; (10) ganden (palu kayu), untuk memukuli kain mori yang akan dibatik agar lemas dan memudahkan pembatik dalam proses pembuatannya; dan (11) malam atau lilin untuk menutup bagian-bagian tertentu dari kain yang tidak diwarnai.

Bahan dasar untuk membuat batik tulis di daerah Pekalongan dapat dibagi menjadi dua, yaitu: bahan yang terbuat dari kapas dan bahan sutera. Bahan yang terbuat dari kapas atau biasa disebut mori/muslin dapat dikategorikan lagi menjadi tiga bagian yaitu: (1) mori muslin yang digunakan untuk jenis batik halus atau batik tulis; (2) mori mentah yang digunakan untuk batik cap; dan (3) mori kasar yang hampir tidak pernah digunakan untuk membatik. Sedangkan bahan yang terbuat dari sutera juga dikategorikan lagi menjadi lima bagian, yaitu: (1) ciuk pik; (2) ciuk cit; (3) ciuk lak; (4) ciuk poa; dan (5) ciuk si.

Selain bahan dasar yang berupa kain, ada pula bahan-bahan yang digunakan sebagai pewarnanya yang dapat berupa zat kimia maupun pewarna alami seperti: nila Jawa, nila werdi (indigo kering yang dibuat oleh pabrik-pabrik Eropa), mengkudu atau Modinda Tintoia Roxb (untuk membuat warna kuning dan merah), jerek atau Fasciculata Zoll, soga (Peltophormn Ferrugineum Benth), tegerang (Cudrania Javanensis Trecul), kayu nangka, kunyit, temulawak, gondorukem, damar dan lain sebagainya.

Proses Pembuatan Batik Tulis Pekalongan

Tahap-tahap pembuatan batik-tulis di Pekalongan adalah sebagai berikut. Sebelum kain mori dibatik, biasanya dilemaskan. Caranya adalah dengan merendam mori dalam air selama satu malam, kemudian dicuci selama ¼ jam dan direbus dalam air kanji atau tajin (air rebusan beras yang kadang diberi campuran daun bambu dan sedikit gamping). Cara ini disebut sebagai nganji atau nyekuli.

Setelah dikanji, kain lalu dikemplong, yaitu digulung kemudian diletakkan di atas papan atau tempat yang datar dan dipukuli dengan ganden (palu kayu). Proses menganji dan mengemplong ini dilakukan agar cairan malam yang nantinya digoreskan diatas kain tidak terlalu meresap ke dalam serat tenunan. Dengan demikian malam dapat dengan mudah dihilangkan.

Sebagai catatan, apabila kain yang akan digunakan adalah kain sutera, maka proses pengemplongan, pengetelan, dan ngusun tidak ada. Kain hanya dicuci bersih dan dijemur kering, kemudian dikanji. Penganjian pada sutera harus lebih hati-hati dari pada mori, karena sutera bersifat prangpang atau jarang serat-seratnya. Apabila penganjian ini kurang baik, maka sulit untuk membatik diatasnya.

Setelah kain menjadi lemas, maka tahap berikutnya adalah ngengrengi dan nerusi, yaitu membuat pola pada mori dengan menggunakan malam. Setelah pola terbentuk, tahap selanjutnya adalah ngiseni, yakni menggambar di sebalik mori sesuai dengan pola. Kegiatan ini disebut nembusi. Setelah itu, nemboki atau mbiriki yaitu menutup bagian yang harus tetap putih. Tahap selanjutnya adalah medel atau nyelup untuk memberi warna putih supaya hasilnya sesuai dengan yang diinginkan. Proses medel dilakukan beberapa kali agar warna putih menjadi lebih pekat. Selanjutnya, ngerok yaitu menghilangkan lilin klowongan agar jika disoga bekasnya berwarna coklat. Alat yang digunakan untuk ngerok adalah cawuk yang terbuat dari potongan kaleng yang ditajamkan sisinya. Setelah dikerok, kemudian dilanjutkan dengan mbironi. Dalam proses ini bagian-bagian yang ingin tetap berwarna biru dan putih ditutup malam dengan menggunakan canting khusus agar ketika disoga tidak kemasukan warna coklat. Setelah itu, dilanjutkan dengan nyoga, yakni memberi warna coklat dengan ramuan kulit kayu soga, tingi, tegeran dan lain-lain. Untuk memperoleh warna coklat yang matang atau tua, kain dicelup dalam bak berisi ramuan soga, kemudian ditiriskan. Proses nyoga dilakukan berkali-kali dan kadang memakan waktu sampai beberapa hari. Namun, apabila menggunakan zat pewarna kimia, proses nyoga cukup dilakukan sehari saja. Proses selanjutnya yang merupakan tahap akhir adalah nglorot, yaitu membersihkan malam. Caranya, kain mori tersebut dimasukkan ke dalam air mendidih yang telah diberi air kanji supaya malam tidak menempel kembali. Setelah malam luntur, kain mori yang telah dibatik tersebut kemudian dicuci dan diangin-anginkan supaya kering. Sebagai catatan, dalam pembuatan satu potong batik biasanya tidak hanya ditangani oleh satu orang saja, melainkan beberapa orang yang tugasnya berbeda.

Motif Ragam Hias Batik Pekalongan

Kekayaan alam Kabupaten Pekalongan sangat mempengaruhi terciptanya ragam hias dengan pola-pola yang mengagumkan. Sekalipun ragam hiasnya tercipta dari alat yang sederhana dan proses kerja yang terbatas, namun hasilnya merupakan karya seni yang amat tinggi nilainya. Jadi, kain batik bukanlah hanya sekedar kain, melainkan telah menjadi suatu bentuk seni yang diangkat dari hasil cipta, rasa dan karsa pembuatnya. Motif-motif ragam hias biasanya dipengaruhi dan erat kaitannya dengan faktor-faktor: (1) letak geografis; (2) kepercayaan dan adat istiadat; (3) keadaan alam sekitarnya termasuk flora dan fauna; dan (4) adanya kontak atau hubungan antardaerah penghasil batik; dan (5) sifat dan tata penghidupan daerah yang bersangkutan.

Beberapa nama ragam hias atau motif batik Pekalongan antara lain: (1) jlamprangan (motif geometris sejenis nitik yang dikembangkan oleh pembatik keturunan Arab); (2) semen (motf berbentuk tumbuhan atau satwa); (3) encim (motif batik yang tatawarnanya banyak dipengaruhi oleh warna-warna khas Cina seperti: porselin, famille rose, famile verte, dll); (4) Sam Pek Eng Tay (motif ini terdiri dari corak buketan dan tersusun dalam dua bagian yang berbeda baik ragam hias maupun warnanya); (5) encim cempaka mulya (batik ini mempunyai ragam hias parang sebagai latarnya dan bunga-bunga kecil yang mendominasi warna biru, merah dan kuning); (6) encim pagi sore (motif ini ragam hia buketannya mewarnai seluruh bidang yang pola bagian pinggirnya berbeda posisi); (7) motif-motif yang dipengaruhi oleh para pendatang Belanda seperti: (bunga krisan, buah anggur, kartu bridges, cupido, kompeni, dan Cinderella); dan (8) motif-motif batik semarangan, yaitu kembang cengah, grindilan, dan lain sebagainya.

Nilai Budaya

Batik-tulis yang diproduksi oleh para perajin di Pekalongan jika dicermati, di dalamnya mengandung nilai-nilai yang pada gilirannya dapat dijadikan sebagai acuan dalam kehidupan sehari-hari bagi masyarakat pendukungnya. Nilai-nilai itu antara lain: keindahan (seni), ketekunan, ketelitian, dan kesabaran.

Nilai keindahan tercermin dari motif ragam hiasnya yang dibuat sedemikian rupa, sehingga memancarkan keindahan. Sedangkan, nilai ketekunan, ketelitian, dan kesabaran tercermin dari proses pembuatannya yang memerlukan ketekunan, ketelitian, dan kesabaran karena tanpa itu tidak mungkin untuk menghasilkan sebuah batik tulis yang bagus. (Pepeng)